Mendidik Anak dengan Konsekuensi atau Hukuman?

Orangtua mana yang tidak bangga jika anaknya selalu menuruti aturan yang diberlakukan oleh orangtuanya. Namun, ada pakar yang menyatakan bahwa jika seorang anak terlalu menuruti ke mauan orangtuanya, maka ia tidak bisa menjadi anak yang mandiri saat dewasa nanti. Bukan berarti melawan orangtua ya! Dalam dunia parenting hal yang gak kalah penting ialah memberikan konsekuensi dan hukuman saat anak melakukan suatu kesalahan agar anak bisa lebih bertanggungjawab lagi. Berikut adalah cara yang tepat dalam memberikan konsekuensi atau hukuman pada anak serta bagaimana perbedaannya!

 

Berhubungan dengan kesalahan

Gambar: hellosehat.com

 

 

Pertama, pemberian konsekuensi dan hukuman pada anak harus berhubungan dengan kesalahan yang diperbuat oleh si anak. Bukan malah karena perbuatannya. Semisalnya, anak berkelahi dengan teman sepermainanya sehingga menimbulkan luka memar. Oleh karena itu, anda bisa memberikan konsekuensi pada si anak dnegan cara menyuruh anak anda untuk meminta maaf  sekaligus mengobati bagian tubuh temannya yang mengalami luka memar akibat kesalahan anak anda. Sementara kalau ingin menghukum si anak, anda bisa memberikan hukuman dengan melarangnya untuk bermain keluar rumah selama 1 sampai 2 minggu. Kemudian, anda bisa menyuruhnya merefleksikan kesalahan tersebut bahwa itu salah, tidak boleh ia lakukan. Dengan demikian si anak mampu bertanggung jawab atas segala kesalahan yang telah ia perbuat.

 

Harus masuk akal

Gambar: www.tipsdoktercantik.com

 

 

Nah, tidak ketinggalan baik konsekuensi maupun hukuman harus yang masuk akal. Dalam arti masih dalam batas wajar serta sesuai dengan kemampuan si anak. Misalkan di sekolah anda di panggil wali kelas si anak karena akhir-akhir ini nilai pelajaran anak nada menurun entah kenapa. Setelah ditelusuri ternyata si anak kebanyakan bermain games daripada belajar yang sudah sepatutnya adalah kewajiban anak anda. Nah, tentunya anda bisa memberikan  konsekuensi dengan membuat suatu kesepakatan bahwa sehabis pulang sekolah harus belajar dan mengerjakan PR terlebih dahulu. Habis itu baru boleh bermain atau melakukan aktivitas lainnya. Jika dilanggar anak harus mau menerima hukuman tidak boleh bermain games lagi.

Baca juga: Deretan Sekolah Asrama Terbaik di Indonesia

 

Berikan pengalaman belajar

Gambar: khabaruna.blogspot.co.id

 

 

Memberikan pengalaman belajar pada anak untuk menumbuhkan sikap mandiri, bertanggung jawab, disiplin, dan taat akan aturan tak kalah pentingnya lho parents! Sebab anak akan menjadi anak yang sukses di masa depan nanti. Oleh itu, konsekuensi dan hukuman harus mampu memberikan pengalaman belajar bagi si anak. Contohnya, anak anda tidak sengaja memecahkan vas bunga di rumah. Konsekuensi bisa dengan memperbaiki vas bunga tersebut atau membersihkan pecahan vas yang telah pecah. Kalau menghukum anda bisa menghukum si anak dengan menyuruhnya berdiri sambil angkat kaki satu selama 30 menit.

Cari sekolah untuk anak? Anda bisa coba kunjungi edumor.com!

 

Menjaga harga diri si anak

Gambar: nova.grid.id

 

 

Yang terakhir, menjaga harga diri anak di depan orang banyak tidaklah kalah penting. Hilangnya harga diri anak, bukan anak saja yang malu melainkan orangtuanya juga pasti malu bukan mainnya. Maka dari itu jika anak anda melakukan suatu kesalahan yang orang lain tidak perlu tahu, sebisa mungkin janganlah mempermalukan anak dihadapan orang lain dengan bercerita hal yang tidak perlu diceritakan sebagai bentuk konsekuensinya. Sedangkan hukumannya cukup dengan memarahi anak dengan nasehat-nasehat bijak.

Sebagaimana mestinya dan bagaimana pun cara orangtua mendidik anak, yang terpenting pemberian konsekuensi maupun hukum harus yang mendidik.

Baca juga

Share this!

One thought on “Mendidik Anak dengan Konsekuensi atau Hukuman?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *