Stop Kekerasan pada Anak! Ini Cara yang Tepat Mendidik Anak Tanpa Kekerasan!

Anak merupakan anugerah dan pemberian terindah dari Tuhan yang harus orangtua jaga dan lindungi. Tahukah anda bahwa mendidik anak dengan cara kekerasan sama saja dengan tidak dapat menjaga titipan dari Tuhan?  Memberikan pendidikan pada anak dengan cara kekerasan dapat menimbulkan efek buruk hingga si anak dewasa. Untuk itu hindarilah mendidik anak dengan cara kekerasan yaitu dengan cara seperti berikut ini:

 

1. Hentikan kegiatan pada anak yang berdampak buruk

Gambar: pedulisehat.info

 

 

Mengancam atau memberikan hukuman kekerasan pada anak tidak sepatutnya dilakukan oleh orangtua terhadap anak-anaknya. Ketika si anak nakal, melawan orangtua, atau membuat orangtuanya merasa kecewa, anda bisa memberi hukuman dengan cara menghentikan kegiatan anak yang berdampak buruk. Misalkan, si anak mendapatkan nilai yang jelek di sekolah. Tentunya anda sebagai orangtua merasa kecewa dan ingin memarahi atau melakukan kekerasan pada anak dengan cara memukul, mencubit, atau menjewer si anak bukan?  Nah, cara tepat yang bisa anda lakukan adalah dengan cara menghentikan kegiatan yang si anak sukai yang menjadi penyebab si anak mendapatkan nilai yang jelek seperti melarang anak bermain gadget, melarang anak bermain video games, melarang anak menonton TV, dll. Setelah itu, berikan janji pada si anak bahwa ia boleh melakukan kegiatan tersebut lagi jikalau dia bisa mendapatkan nilai pelajaran yang bagus.

 

2. Diamkan si anak ketika ia gak bisa dikasih tau secara baik-baik

Gambar: ayahkita.blogspot.co.id

 

 

Kesel juga sih kalau anak udah dikasih tau malah tambah ngelawan atau ngelunjak. Kadang-kadang saking kesel dan gregetan sama si anak, orangtua kerap kali main tangan. Di saat anda sedang mengalami kondisi seperti ini sebaiknya diamkan sejenak si anak lalu tinggalin dia. Setelah itu, kembalilah mendekat pada anak anda. Tanyakan mengapa dia berbuat seperti itu dan apa yang ia inginkan untuk dirinya atau dari orangtuanya. Ajak dia ngobrol dengan baik-baik layaknya anda yang sedang ngobrol dengan teman dekat anda.

 

3. Memarahi anak boleh-boleh saja tapi jangan dengan emosi yang meledak-ledak apalagi mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan ke anak

Gambar: mamaezidan.blogspot.co.id

 

 

Kekerasan pada anak tidak hanya kekerasan fisik tapi ada juga kekerasan mental dengan cara terlalu berlebihan memarahi anak. Marahin anak boleh-boleh aja sih tapi jangan dengan emosi yang meledak-ledak apalagi sampe mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan ke anak. Misalnya, “kamu ini gimana sih masa gini aja gak bisa” Menurut orangtua perkataan tersebut tidak menyakitkan, tapi si anak akan merasa tersakiti dengan perkataan kasar yang diucapkan oleh orangtuanya karena apa yang dikatakan  orangtua akan tersimpan dengan cepat ke memori si anak. Cobalah tahan emosi anda ketika memarahi si anak. Bahaya loh jika memarahi anak dengan rasa emosi yang berlebihan dan adanya ucapan kata kasar!  Prilaku tersebut dapat membuat si anak menjadi anak yang pemberontak dan bisa dicontoh ke orang-orang yang ada di lingkungan sekitarnya seperti ke teman sepermainannya bahkan bisa menjalar sampai si anak dewasa nanti.

Baca juga: Meningkatkan Kemampuan Belajar Anak dengan Membentuk Rasa Tanggung Jawab pada Anak

 

4. Memberikan nasehat dengan lembut dan baik

Gambar: ktiko.grtiko.gr

 

 

Memberikan nasehat dengan lembut dan baik termasuk salah satu cara yang tepat untuk memberikan pendidikan kepada anak tanpa kekerasan. Tentunya dalam menasehati anak harus memberikan kata-kata nasehat yang positif bukan yang negatif. Intinya nasehat tersebut dapat memotivasi si anak agar menjadi anak yang patuh pada orangtua, tidak mudah memberontak, tidak cengeng, dll. Berikan juga sentuhan kasih sayang sehabis menasehati si anak.

 

5. Berikan hukuman dengan kegiatan yang positif

Gambar: www.dreamstime.com

 

 

Pemberian hukuman bisa anda lakukan untuk merubah sifat negatif si anak. Hukuman seperti apa itu? Tentunya dalam memberi hukuman harus hukuman yang mendidik ya bukan hukuman yang tidak mendidik. Kegiatan tambahan dirumah bisa menjadi alternatif pemberian hukuman yang mendidik serta harus memiliki tujuan untuk mendisiplinkan anak. Kegiatan tersebut dengan membersihkan rumah, merapikan tempat tidur, merapikan mainan, dll.

 

6. Ajarkan untuk selalu mengakui kesalahannya dan meminta maaf saat si anak melakukan kesalahan

Gambar: www.tipsanakbayi.com

 

 

Berbuat kesalahan wajar-wajar aja namanya juga manusia. Dalam kondisi si anak melakukan suatu kesalahan, ajarkan mereka untuk selalu mengakui kesalahannya dan terapkan ucapan maaf. Begitu juga ketika si anak mulai berani berbohong. Anak yang mulai berani berbohong jangan dimarahin tapi ajarkan dia kejujuran dengan cara memancing si anak agar berbicara jujur lalu minta maaf. Kejujuran dan meminta maaf harus diajarkan kepada anak terhadap siapapun itu baik kepada orang yang lebih muda, kepada orang yang seumuran dengannya, dan bahkan kepada orang yang lebih tua darinya.

Cari sekolah / perguruan tinggi yang tepat hanya di edumor.com!

 

7. Ahlikan perhatian si anak ketika ia sedang merengek meminta sesuatu namun tidak anda wujudkan

Gambar: journal.sociolla.com

 

 

Anak kecil suka dengan hal-hal yang menarik perhatian di sekitarnya. Pas si anak merengek terus meminta sesuatu dari anda seperti meminta dibelikan mainan namun anda tidak mewujudkannya, andapun bisa menghentikan rengekan si anak dengan mengalihkan perhatiannya terhadap sesuatu yang ada di sekitarnya. Atau bisa mengatakan pada si anak “belinya nanti aja ya sayang, tunggu mama / papa punya duit”. Berikan pengertian  kepada si anak mengapa anda tidak ingin mewujudkan keinginan si anak. Kalau si anak dikit-dikit minta ini, dikit-dikit minta itu dikasih terus sama orangtuanya pasti akan menjadi sebuah kebiasaan.

Keberhasilan seorang anaknya dilihat berdasarkan cara pendidikan orangtua terhadap anaknya. Jika si orangtua memberikan pendidikan yang salah terhadap anaknya, maka dari itu akan menimbulkan luka batin pada si anak dan si anak tidak memiliki keberhasilan yang diharapkan oleh orangtuanya.

 

Baca juga

Share this!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *