Keputusan 8 Jam Pelajaran dalam Sehari Mulai Tahun Ajaran Baru Sekolah. Efektifkah?

Berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mulai tahun ajaran baru jam pelajaran di sekolah-sekolah ditambah menjadi 8 jam per hari untuk sekolah swasta dan negeri. Pada hari Sabtu proses pembelajaran ditiadakan. Ada sekitar 9.oooan sekolah yang mampu mengikuti proses belajar mengajar selama 8 jam per hari dari 12.000an sekolah. Keputusan ini diberikan agar siswa-siswi di hari Sabtu memiliki waktu untuk libur. Waktu pembelajaran selama 8 jam per hari tersebut tidak hanya belajar full di dalam kelas saja tetapi ada juga kegiatan belajar mengajar di luar kelas. Kegiatan belajar mengajar tersebut antara lain 30% dari buku pelajaran dan selebihnya adalah proses belajar mengajar pendidikan karakter yang akan diberikan kepada siswa-siswi sekolah tersebut. Sekiranya selama proses belajar mengajar berlangsung, guru-guru akan menerapkan metode pembelajaran yang menyenangkan dari berbagi sumber pembelajaran. Sebenarnya penetapan sistem pendidikan 8 jam dalam sehari tidak hanya dibuat agar siswa-siswi memiliki waktu libur di hari Sabtu tetapi penetapan waktu belajar mengajarkan tersebut dibuat agar siswa-siswi khususnya jenjang SD dan SMP mampu memiliki serta menerapkan pendidikan berbudi pekerti yang baik dan berpendidikan karakter yang baik pula. Hal ini berdasarkan visi Presiden RI Bapak Joko Widodo mengenai menerapan pendidikan berbudi pekerti dan pendidikan berkarakter untuk siswa-siswi jenjang SD dan SMP yang ingin dijalankan oleh Mendikbud.  Tentunya ada beberapa efek positif dan negatif yang akan dirasakan jika penerapan jam belajar tersebut terjadi antara lain:

 

1. Pendidikan Madrasah akan gulung tikar dan para pengajarnya akan kehilangan pekerjaannya.

Gambar: makassar.tribunnews.com

 

 

Wakil MUI Zainut Tauhid menyatakan bahwa jika diterapkan sistem pembelajaran 8 jam per hari akan menyebabkan sekolah madrasah mengalami gulung tikar atau kebangkrutan karena sekolah madrasah memiliki kontribusi yang cukup besar untuk siswa-siswinya. Kontribusi terbesarnya adalah adanya kegiatan pendidikan keagamaan yang diikuti oleh siswa-siswi madrasah dan pesantren yang diikutsertakan pada jam pulang sekolah anak-anak sekolah umum. Tak hanya terjadinya gulung tikar tapi para pengajar akan kehilangan pekerjaannya akibat dari sistem pembelajaran 8 jam per sehari tersebut.

 

2. Siswa akan merasakan kelelahan dan kesehatan fisik menurun

Gambar: health.detik.com

 

 

Tentunya dengan adanya penerapan sistem pembelajaran selama 8 jam sehari siswa-siswi akan merasa terbebankan dengan waktu belajar yang cukup lama dalam satu hari. Menurut Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia, Retno Listyart yang menyatakan bahwa penerapan waktu belajar 8 jam per hari dapat membuat siswa-siswi merasa kelelahan dan kesehatan fisik mereka menjadi menurun jika mereka tidak dibekali makanan yang sehat dan bergizi.

 

3. Menurut Mendikbud waktu pembelajaran 8 jam per hari  membuat sekolah madrasah menjadi untung

Gambar: crmviet.vn

 

 

Berbeda dengan wakil MUI yang berpendapat bahwa penerapan waktu belajar 8 jam per hari dapat menjadikan sekolah madrasah bangkrut. Malahan Mendikbud berpendapat sebaliknya. Beliau berpendapat bahwa penerapan waktu pembelajaran tersebut dapat menguntungkan madrasdah. Keuntungannya adalah sekolah madrasah akan menjadi sumber pembelajaran yang bersinergi bagi sekolah untuk menerapkan nilai-nilai keagamaan.

Baca juga: Selamat untuk yang Lolos SBMPTN! Ini yang Harus Kamu Lakukan Setelah Lolos SBMPTN

 

4. Terjadinya beban pembelajaran

Gambar: gaptekna.blogspot.co.id

 

 

Jika sekolah tersebut tidak memiliki kreativitas dalam pontensi  kegiatan pembentukan karakter terhadap setiap siswa-siswi maka sistem pembelajaran ini akan menjadi beban bagi setiap siswa-siswinya. Untuk itu, para guru atau pengajar akan menerapkan sistem pembelajaran yang menyenangkan dari berbagai sumber pembelajaran dan waktu pembelajaran tidak full di dalam kelas melainkan ada kegiatan pembelajaran lainnya yang dilakukan di luar kelas seperti yang sudah diungkapkan oleh Mendikbud.

Cari sekolah / perguruan tinggi yang tepat di edumor.com!

 

5. Adanya ruang belajar yang luas terhadap pengembangan minat setiap siswa-siswi

Gambar: gaptekna.blogspot.co.id

 

 

Berdasarkan penjelasan dari Mendikbud,  seorang Ketua Yayasan Cahaya Guru bernama Henny Supolo Sitepu menyatakan bahwa dari sistem tersebut ada ruang belajar yang sangat luas bagi para siswa-siswi di sekolah tersebut. Beliau juga berpendapat bahwa setiap siswa-siswi perlu diberikan peluang yang luas untuk mengembangkan minat mereka setelah kegiatan belajar di sekolah. Guru juga harus memantau dan mencatat segala kegiatan yang dilakukan oleh siswa-siswinya. Kegiatan pengembangan minat tersebut bisa berupa kegiatan keagamaan, kesenian, olahraga, dll yang bisa diikutsertakan oleh setiap siswa-siswinya. Kegiatan ekstrakurikuler tetap termasuk ke dalam penerapan sistem pembelajaran 8 jam sehari.

Bagaimana menurut kalian? Apakah penerapan sistem pembelajaran 8 jam sehari itu efektif? Banyak pendapat yang menyatakan bahwa sebaiknya penerapan sistem ini hanya diterapkan untuk sekolah-sekolah yang memiliki fasilitas yang memadai baik sekolah swasta maupun sekolah negeri serta sekolah tersebut sudah siap mengikuti penerapan sistem pembelajaran 8 jam sehari. Lebih baik sebelum penerapan sistem tersebut disahkan harus dipertimbangkan terlebih dahulu.

 

Sumber: Kompas.com dan Tribunnews.com

 

 

Baca juga

Share this!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *